Kategori
Berita Bola

Duo Bersaudara, Inilah 3 Kakak-Adik yang Menjadi Pemain Sepak Bola Top

Duo Bersaudara, Inilah 3 Kakak-Adik yang Menjadi Pemain Sepak Bola Top

Duo Bersaudara, Inilah 3 Kakak-Adik yang Menjadi Pemain Sepak Bola Top – Sepak bola merupakan olahraga terpopuler dan paling banyak dimainkan di dunia saat ini. Begitu populernya, sepakbola bahkan telah menjadi budaya erat suatu negara dan menjadi ajang wajib setiap edisinya.

D’masa sekarang, pemain profesional di liga sepak bola dunia sudah sangat banyak dan tak jarang ada yang merupakan saudara kandung atau kakak beradik. Keduanya pun bahkan menjadi pemain top dan memiliki prestasi cemerlang.

Melansir dari https://dotdotdot.me/ berikut ini ada 6 kakak beradik yang menjadi pemain top sepak bola saat ini. Penasaran siapa saja? Simak ulasannya di bawah ini.

1. Rafinha dan Thiago Alcantara

Banyak yang tidak mengetahui jika Rafinha dan Thiago Alcantara merupakan saudara kandung. Keduanya sama-sama pernah membela Barcelona, namun Thiago memutuskan hijrah ke Bayern Munchen pada musim 2013/2014. D’sisi lain, Rafinha lebih banyak dipinjamkan ke klub lain dan musim lalu dirinya resmi pindah ke PSG.

Untuk urusan penampilan, performa Thiago juga lebih menjanjikan ketimbang sang adik. Thiago yang kini berada di Liverpool menjadi andalan  lini tengah Bayern Munchen dan sukses meraup sejumlah trofi. Sementara itu, PADA level timnas, keduanya membela negara yang berbeda. Thiago memutuskan membela Spanyol, sedangkan Rafinha lebih memilih berkewarganegaraan Brasil.

2. Romelu dan Jordan Lukaku

Striker andalan Inter Milan, Romelu Lukaku mempunyai saudara yang ternyata juga berprofesi sebagai pemain sepak bola. Dia adalah Jordan Lukaku yang kini bermain untuk Royal Antwerp. Berbeda dengan sang kakak yang berposisi sebagai striker, Jordan Lukaku beroperasi di sektor bek sayap kanan.

Menilik kariernya ke belakang, duo Lukaku ini punya prestasi yang berbeda. Romelu Lukaku telah malang melintang bermain di klub-klub besar Eropa, sedangkan Jordan Lukaku hanya membela beberapa klub papan tengah saja, terkecuali Lazio. Untuk penampilan di timnas, keduanya telah bermain untuk Timnas Belgia dan menjadi andalan di Piala Dunia 2018 lalu.

3. Eden dan Thorgan Hazard

Sama dengan duo Lukaku, kakak-adik ini juga bermain untuk timnas yang sama yaitu Belgia. Punya kemiripan di dalam gaya permainan, yaitu sama-sama beroperasi di lini serang, Eden dan Thorgan Hazard berhasil menjadi andalan di klubnya masing-masing.

Namun, sayang, performa sang kakak, Eden Hazard, tengah dalam tren negatif usai mengalami cedera berkepanjangan selama membela Real Madrid. Sementara itu, Thorgan Hazard menjelma menjadi tumpuan Borussia Dortmund sejak musim lalu usai didatangkan dari Borussia Monchen’gladbach.

Kategori
Berita Bola

Klub Liga Eropa yang Tidak Terkalahkan

Klub Liga Eropa yang Tidak Terkalahkan

Klub Liga Eropa yang Tidak Terkalahkan, – Dari sejumlah kompetisi domestik di Eropa yang baru bergulir, terdapat beberapa klub yang mampu mencatatkan hasil bagus. Mereka belum pernah menelan pil pahit kekalahan.

Pencapaian 40 lebih pertandingan tanpa kalah sekali pun merupakan hal yang sangat jarang. Namun, bukan berarti hal itu merupakan hal yang mustahil terulang.

Dikutip laman http://poker88asia.info, Berikut ini adalah lima tim yang pernah meraih capaian 40 lebih pertandingan tidak terkalahkan di liga-liga Eropa.

1. FC Porto musim 2010/2011: 46 pertandingan

Banyak orang yang mengatakan bahwa FC Porto di bawah asuhan Jose Mourinho adalah yang terbaik karena berhasil memenangkan Liga Champions musim 2003/2004. Namun, Porto di bawah arahan pelatih muda Andre Villas-Boas mampu mencatatkan rekor tidak terkalahkan di Liga Portugal pada musim 2010/2011.

Bahkan, rekor tak terkalahkan tersebut berlanjut ke 16 pertandingan musim 2011/2012. Mengandalkan Hulk dan Radamel Falcao di lini depan, Porto mendominasi Liga Portugal dan Liga Europa pada musim 2010/2011.

Skuad inti FC Porto musim 2010/2011, antara lain kiper: Helton; bek: Cristian Ionut Sapunaru, Alvaro Pereira, Rolando, Maicon Pereira Roque; tengah: Joao Moutinho, Silvestre Varela, Daniel Belluschi, Fernando Reges; depan: Hulk, Radamel Falcao.

2. Arsenal musim 2003/2004: 47 pertandingan

Setelah melewati musim 2002/2003 yang mengecewakan dengan hanya duduk di peringkat kedua, Arsenal menggila pada musim berikutnya. Manajer Arsenal pada masa tersebut, Arsene Wenger, memutuskan untuk tidak belanja besar pada jendela transfer dan memercayakan tim pada skuad musim sebelumnya.

Hasilnya adalah invincible. Arsenal berhasil memenangkan Premier League tanpa tersentuh kekalahan sekali pun (26 menang 12 imbang). Penyerang andalan Arsenal, Thierry Henry, berhasil menjadi top skor dengan torehan 30 gol.

Skuad inti Arsenal musim 2003/2004, antara lain kiper: Jens Lehmann; bek: Lauren Etame Mayer, Kolo Toure, Sol Campbell, Ashley Cole; tengah: Frederick Ljungberg, Patrick Vieira, Gilberto Silva, Robert Pires; penyerang: Thierry Henry, Dennis Bergkamp.

3. Ajax Amsterdam musim 1994/1995: 48 pertandingan

Di bawah asuhan Louis van Gaal, Ajax menjelma raksasa Belanda dan Eropa. Mulai melatih pada 1991, van Gaal baru bisa membawa Ajax merajai Eredivisie pada musim 1993/1994.

Lebih hebatnya lagi, setahun setelahnya, Ajax mencatat pencapaian sensasional dengan memenangkan Eredivisie tanpa kalah sekali pun (27 menang 7 seri). Mengandalkan Patrick Kluivert dan Jari Litmanen sebagai ujung tombak, Ajax berhasil memenangkan Eredivisie dan Liga Champions pada musim 1994/1995.

Skuad inti Ajax musim 1994/1995, antara lain kiper: Edwin van der Sar; bek: Danny Blind, Frank de Boer, Michael Reiziger, Frank Rijkaard; tengah: Ronald de Boer, Clarence Seedorf, Edgar Davids; penyerang: Patrick Kluivert, Jari Litmanen, Marc Overmars.

4. Celtic FC musim 2016/2017: 56 pertandingan

Di bawah asuhan Brendan Rodgers, Celtic menjelma raksasa Skotlandia yang tidak terkalahkan dalam 56 pertandingan beruntun. Bahkan, pada musim 2016/2017 dan 2017/2018, Celtic menang 58 kali, 14 kali imbang, dan 4 kalah. Sayangnya, Celtic tidak dapat berbicara banyak di ajang Liga Champions setelah tersingkir di babak penyisihan grup pada musim tersebut.

Skuad inti Celtic FC 2016/2017, antara lain kiper: Craig Gordon; bek: Jozo Simunovic, Dedryck Boyata, Cristian Gamboa, Kieran Tierney; tengah: Scott Brown, Scott Sinclair, Stuart Armstrong, Callum McGregor, Patrick Roberts; penyerang: Moussa Dembele.

5. AC Milan musim 1991/1992: 58 pertandingan

Kehadiran tiga pemain terbaik Belanda, Marco van Basten, Frank Rijkaard, dan Ruud Gullit, memang benar-benar membuat AC Milan menjadi tim yang sangat menakutkan, bukan hanya di Serie A, melainkan juga di Eropa.

Ditambah dengan racikan Fabio Capello sebagai pelatih, AC Milan meraih capaian 58 pertandingan tak terkalahkan di Serie A. Dengan pencapaian tersebut, AC Milan berhasil mengunci scudetto pada musim 1991/1992 dan 1992/1993.

Skuad inti AC Milan pada masa tersebut, antara lain kiper: Sebastiano Rossi; bek: Paolo Maldini, Franco Baresi, Alessandro Costacurta, Mauro Tassotti, tengah: Carlo Ancelotti, Frank Rijkaard, Demetrio Albertini, Roberto Donadoni; penyerang: Ruud Gullit, Marco van Basten.

Saat ini, AC Milan masih menjadi tim di Eropa yang belum terkalahkan dengan raihan 17 pertandingan tanpa kalah di Serie A. Total di seluruh kompetisi yang diikuti, AC Milan sudah mengantongi 23 pertandingan tanpa kalah sekali pun. Akankah rekor invincible di 40 lebih pertandingan dapat kembali terulang pada musim ini?

Kategori
Berita Bola

Pemain Buangan Real Madrid Mampu Bersinar di Klub Lain

Pemain Buangan Real Madrid Mampu Bersinar di Klub Lain

Pemain Buangan Real Madrid Mampu Bersinar di Klub Lain, – Memperkuat tim sebesar Real Madrid bukanlah pekerjaan mudah. Seorang pesepak bola dituntut untuk selalu konsisten memberikan penampilan terbaiknya.

Nama-nama seperti Karim Benzema, Cristiano Ronaldo, dan Sergio Ramos menjadi beberapa pemain yang terlihat seperti dilahirkan untuk bermain bersama Real Madrid dan menikmati puncak kariernya di Santiago Bernabeu.

Dikutip http://ratutogel.com, Uniknya, setelah meninggalkan Los Blancos, para pemain tersebut justru menikmati kesuksesan yang luar biasa. Siapa saja pemain tersebut? Berikut ulasannya.

Arjen Robben

Cepat dan memiliki insting gol yang baik merupakan hal yang identik dengan Arjen Robben. Pemain asal Belanda ini bisa dibilang sebagai salah satu penyerang sayap terbaik dalam dua dekade terakhir. Namun, tidak demikian saat ia membela Real Madrid.

Nama Robben mulai dikenal ketika memilih pindah ke Chelsea pada 2004 setelah membela PSV Eindhoven. Mampu tampil cemerlang bersama The Blues, ia kemudian direkrut oleh Real Madrid pada 2007 dengan harga 35 juta euro.

Sama seperti Sneijder, Robben juga hanya bertahan selama dua musim, sebelum memilih pindah ke Bayern Munchen dengan biaya 25 juta euro.

Di Bayern, ia menjadi rekan duet yang menjanjikan di sisi sayap bersama Franck Ribery. Bahkan tidak sedikit yang menyebut mereka berdua sebagai duo sayap terbaik di dunia.

Juan Mata

Juan Mata memulai kariernya di Real Oviedo sebelum akhirnya bergabung dengan akademi Real Madrid pada tahun 2003. Saat itu, ia menghabiskan satu musim di Divisi Segunda bersama Real Madrid Castilla.

Tetapi, Mata memilih untuk meninggalkan klub pada tahun 2007 dengan bergabung bersama Valencia. Bersama klub yang bermarkas di Stadion Mestalla itu, ia menjelma menjadi pemain hebat dan diincar banyak tim.

Alhasil, pemain asal Spanyol itu diboyong oleh Chelsea dengan harga 27 juta euro pada 2011. Kariernya bersama Chelsea semakin menanjak, di mana ia berhasil memenangi Liga Eropa dan Liga Champions.

Pemain berusia 32 tahun ini kemudian bergabung dengan Manchester United pada 2014 dengan biaya 45 juta euro. Meski kini tak lagi menjadi pemain inti di United, Mata merupakan salah satu gelandang yang kreatif dan mampu bermain di berbagai posisi.

Samuel Eto’o

Samuel Eto’o merupakan salah satu penyerang terbaik di eranya dan bisa dibilang sebagai pemain terbaik asal Afrika. Namun, semua kehebatannya itu tampak tidak berlaku di Real Madrid.

Ia bergabung dengan klub Spanyol itu pada 1996 saat usianya masih 16 tahun. Eto’o hanya membuattujuh pertandingan bersama Real Madrid dan tak membukukan satu gol pun.

Ia kemudian dijual ke Mallorca pada Januari tahun 2000 dan membuat performa yang apik sehingga Barcelona meminangnya pada tahun 2004.

Ia dengan cepat menjadi pencetak gol yang konsisten baik bersama Barca maupun Inter Milan. Eto’o juga berhasil memenangi dua kali treble winner dengan dua klub tersebut.

Ia lalu bermain untuk beberap klub terkenal seperti Anzhi Makhachkala, Chelsea, Everton dan Sampdoria sebelum pensiun pada 2019 setelah membela Qatar SC.

Fabinho

Fabinho merupakan produk akademi klub Brasil, Fluminense. Ia bergabung bersama Real Madrid pada tahun 2012 dengan status pinjaman dari Rio Ave dan bermain untuk tim Castilla.

Fabinho hanya membuat satu kali penampilan bersama tim senior Real Madrid di LaLiga saat melawan Malaga. Hal itu belum cukup membuat ia dikontrak sebagai pemain permanen.

Pemain berusia 26 tahun itu kemudian melanjutkan kariernya bersama AS Monaco dengan status pinjaman, sebelum akhirnya dipermanenkan. Ia secara total telah mencatatkan 250 pertandingan bersama klub Prancis tersebut.

Performanya bersama Monaco membuat raksasa Inggris, Liverpool merekrutnya pada tahun 2018 dengan biaya 45 juta euro. Selama dua musim membela Liverpool, Fabinho telah memenangi semua trofi bergengsi, termasuk Liga Champions dan Premier League.

Wesley Sneijder

Wesley Sneijder adalah salah satu gelandang serang terbaik di eranya. Namun, kariernya meredup ketika membela Real Madrid. Pemain yang besar bersama Ajax ini ditebus oleh Los Blancos dengan harga 27 juta euro pada 2007.

Bersama Real Madrid, ia hanya bertahan selama dua musim dan memilih pindah ke Inter Milan. Sneijder dengan cepat mampu menemukan permainan terbaiknya di Italia.

Bahkan, ia menjadi pemain kunci dalam keberhasilan Inter meraih treble winner di bawah asuhan Jose Mourinho.

***

Meski sempat gagal berkembang bersama Real Madrid, bukan berarti karier para pemain tersebut akan terjun bebas. Mereka mampu bangkit dengan baik dan menjadi pemain hebat di klub lain. Perjuangan yang patut dicontoh!